Derapperistiwa.id | Pekanbaru,
Direktur Utama, Lembaga Pendidikan Wartawan, Pekanbaru Journalist Center, Drs . Wahyudi El Panggabean, M.H., mengungkapkan rasa terima kasih-nya kepada Tanoto Foundation, yang secara konsisten mendukung peningkatan SDM (Sumber Daya Manusia) di tanah air.
“Saya kira program-program humanis Tanoto Foundation sangat dibutuhkan anak negeri ini, khususnya dalam peningkatan sumber daya manusia. Termasuk untuk kalangan jurnalis dan media,” kata Wahyudi di sela-sela pelatihan jurnalistik, yang merupakan salah satu program Tanoto Foundation, di Hotel Novotel, Pekanbaru, Rabu (29/4).
Wahyudi sang Master Trainer itu tampil sebagai salah satu Narasumber pada kegiatan bertajuk, “Journalist Kapabality Building” membahas materi jurnalistik seputar: Kode Etik Jurnalistik, Perimbangan Berita serta Perlindungan Narasumber. Pelatihan diikuti 20 peserta, wartawan & Pemimpin Redaksi Media Berita.
Menurut Wahyudi, tantangan terbesar bagi wartawan saat ini, justru datang dari internal wartawan itu sendiri. Banyak wartawan yang malas belajar untuk meningkatkan pengetahuannya.
“Secanggih apapun teknologi AI tidak membantu tugas jurnalis secara maksimal, tanpa diimbangi kecerdasan wartawan itu sendiri,” kata Wahyudi yang sudah lebih 40 tahun menekuni profesi jurnalis itu.
Untuk itulah katanya, program peningkatan profesionalisme wartawan seperti yang diselenggarakan Tanoto Foundation ini menjadi kebutuhan mendesak dan relevan bagi para jurnalis.
“Sebagai seorang yang sudah puluhan tahun bergelut dalam peningkatan profesionalisme wartawan, saya sangat mengapresiasi program ini,” kata Penulis buku-buku jurnalistik itu.
Di bagian lain, Wahyudi banyak menyoroti teknis kinerja wartawan di lapangan khususnya upaya memenuhi perimbangan berita yang acap kali terbentur sulitnya “menembus” narasumber.
“Di satu sisi wartawan diwajibkan kode etik, memenuhi perimbangan berita. Di sisi lain, wartawan dihadang oleh sulitnya menemui narasumber guna meminta konfirmasi dan verifikasi berita,” katanya.
Tetapi, bagi seorang jurnalis sejati, jelas Wahyudi, melukai narasumber lewat berita adalah sesuatu yang “haram”.
Untuk itulah, Wahyudi mengisahkan pengalaman-pengalamanya, sebagai wartawan, saat berburu informasi pada genggaman Narasumber yang “sulit”. Tetapi, pada akhirnya, harus berhasil “ditembus”.
“Wartawan mesti menyadari, kewenangan yang melekat pada seorang wartawan untuk berburu informasi hanyalah semata-mata untuk memenuhi kebutuhan publik tentang informasi,” jelasnya.
Atas dasar itulah, kode etik jurnalistik mengatur tata cara perburuan, pengolahan serta penyebaran informasi dalam lingkup prosesi kinerja seorang wartawan.
“Jika profesi wartawan itu kita ilustrasi kan sebagai senjata, maka kode etik jurnalistik adalah buku petunjuk penggunaan senjata itu,” ungkap Wahyudi.
Dalam prakteknya di lapangan, buku petunjuk bernama kode etik itu, demikian Wahyudi, juga butuh kecerdasan dan pemahaman.
Jangan sampai seorang wartawan, lanjutnya, menenteng “senjata” ke mana-mana, tetapi tak tau cara menggunakannya dengan benar.
“Menjalankan prosesi jurnalistik berikut produk karya jurnalistiknya_sesuai amanah kode etik_ adalah istilah lain dari kompetensi seorang wartawan,” tegasnya.
Pada titik ini, cara – cara profesional meski terlihat dari strategi menembus narasumber, teknik berkomunikasi dan berwawancara dengan narasumber secara berani dan beretika.
Dengan demikian, tegas Wahyudi, kebutuhan belajar dan berlatih konsisten bagi seorang wartawan, merupakan harga mati.
“Banyak cara yang bisa ditempuh untuk belajar, jika ada kemauan. Pelatihan yang diselenggarakan Tanoto Foundation ini, salah satu sarana belajar efektif,” tandasnya.**













