Nuryadi SE: “Wajah Desa Bukan Tempat Sampah, Rakyat Harus Sadar!…”

DAERAH, NASIONAL50 Dilihat

Derapperistiwa.id | Kampar,

Pemandangan menjijikkan akibat tumpukan sampah yang mengepung perbatasan Desa Bukit Kemuning dan Desa Suka Ramai akhirnya “disikat” habis. Pada Jumat (13/2/2026), sebuah gerakan “bersih-bersih paksa” digelar secara masif sebagai tamparan bagi warga yang masih hobi membuang limbah sembarangan di bahu jalan.

Bukan sekadar aksi lokal, Camat Tapung Hulu menginstruksikan 14 desa di seluruh kecamatan untuk bergerak serentak. Ini adalah langkah nyata mendukung program Giat Asri sesuai arahan Presiden RI melalui Bupati Kampar. Namun, pusat perhatian utama tertuju pada Desa Suka Ramai titik yang selama ini menjadi “wajah buruk” akibat tumpukan sampah plastik dan limbah rumah tangga.

Aksi gotong royong ini tidak main-main. Di bawah komando Camat Tapung Hulu, seluruh elemen mulai dari Polsek Tapung Hulu, TNI (Koramil 16 Tapung), Pemuda, OKP, Ormas, LSM, hingga Pers Media Keadilan turun ke jalan. Keterlibatan aparat keamanan ini menegaskan bahwa urusan sampah bukan lagi sekadar hobi bersih-bersih, melainkan pertaruhan harga diri wilayah.

Nuryadi, S.E., selaku Camat dan Pembina Pers Keadilan Tapung Hulu, memberikan peringatan keras dalam arahannya:

“Lingkungan bersih bukan hanya soal pemandangan, tapi soal kesehatan dan harga diri desa. Jangan lagi jadikan perbatasan ini sebagai tempat buang sampah. Kita harus jaga bersama!” tegasnya di hadapan warga.

Camat Tapung Hulu menegaskan bahwa Giat Asri di 14 desa ini adalah instruksi vertikal yang harus ditaati. Namun, tanpa kesadaran dari sumbernya yakni rumah tangga aksi hari ini hanya akan menjadi seremoni sia-sia.

Aksi gotong royong masif ini memang berhasil menyulap wajah perbatasan menjadi lebih manusiawi. Namun, tantangan sesungguhnya adalah konsistensi. Jika besok pagi tumpukan sampah kembali muncul, maka mentalitas masyarakat Tapung Hulu patut dipertanyakan.

Negara sudah hadir, camat sudah bergerak, aparat sudah memegang sapu. Sekarang pertanyaannya: Apakah warga masih punya urat malu untuk tidak mengotori tanahnya sendiri?

Sumber: Pers Keadilan Tapung Hulu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *