By : Wahyudi El Panggabean
Derapperistiwa.id,—-Seperti temaram senja, bagi seseorang yang sudah di angka 60__ “kelembutan”__tidak sebatas dirindukan. Justru jadi kebutuhan hakiki.
Di usia senja, pada akhirnya, seseorang harus menyadari kebutuhan terakhir hanyalah kelembutan. Nilai tertinggi, sebuah hubungan, mana kala, koneksitas itu terpaut oleh “hati” & melahirkan kelembutan dalam setiap instrumen komunikasi.
Kehidupan menghadirkan keindahan bunga-bunga sebagai sumber kelembutan. Semerbak wewanginya, menawarkan cita-rasa kedamaian jiwa.
Kaum wanita, mengadopsi sifat suci alamiah bunga kemudian merelokasi sifat itu pada struktur kehidupan yang lebih bermartabat. Wajar, jika disebut, wanitalah yang mendidik kaum pria tentang keindahan.
Tetapi, tidak serta merta seorang wanita menggunakan “kelembutan”-nya di keseharian. Ada instrumen eksternal, penggugah hadirnya sifat indah itu, dari orang-orang sekitarnya. Kondisi lingkungannya….
Kelembutan yang bertahta di “hati”, akan tetap bersemayam di keabadiannya, tanpa pemantik dari orang-orang yang membawa “pesan moral” beraroma cinta. Ilusi, pura-pura baik, seperti emas-imitasi, dengan sendirinya akan tertolak.
“Jika Anda ingin membeli kelembutan, bayarnya juga dengan ketulusan…” Ketulusan. Bukan pencitraan.
Illustrasinya, saat kamu menolong seseorang biar dia mengalir dari hati. Sebab kebaikan sejati berkembang dalam diam. Konsekuensi kebaikan sejati bebas validasi. Jiwa yang anggun ber-resonansi dengan pengakuan yang tulus.
Kelembutan yang kita tebar di hati seseorang, akan berkilau abadi bagai bunga yang selalu mekar. Itulah makna dari kebaikan. Tidak diukur dari akumulasi pujian.
Atau decak kagum dan rekah senyum_yang sesungguhnya_mengandung: kepalsuan…
Editor : Pajar Saragih / redaksi.







