Pendampingan Pemanfaatan Kebun Gizi Keluarga dalam Penanganan Stunting 

NASIONAL642 Dilihat

Derapperistiwa.id, | NTT,

Dalam rangka memberdayakan masyarakat untuk lebih aktif dalam mencegah dan menangani stunting di lingkungan sekitarnya, Tim Pengabmas DIII Kebidanan Poltekkes Kemenkes Kupang telah melaksanakan pendampingan pemanfaatan kebun gizi keluarga dalam penanganan stunting.

Pendampingan tersebut dilakukan di desa Oelnasi, Kecamatan Kupang Tengah, Kabupaten Kupang, pada 11 Oktober lalu, yang melibatkan Kader kesehatan, Bidan Koordinator dan bidan penanggungjawab wilayah Desa Penfui Timur, serta perwakilan orang tua dari wilayah binaan Puskesmas.

Kepada media ini, Jumat 22/11/24, Dr. Agustina A. Seran, S.Si.T., MPH, selaku Praktisi Kesehatan Ibu dan Anak, menjelaskan bahwa kegiatan tersebut dilakukan untuk meningkatkan pemahaman masyarakat tentang stunting, pemberdayaan keluarga melalui kebun gizi sebagai solusi berkelanjutan, dan pelatihan monitoring tumbuh kembang anak.

Selain itu, untuk membangun kesadaran peran masyarakat dan kader kesehatan, serta mendorong kolaborasi untuk menciptakan lingkungan yang mendukung perkembangan anak secara optimal.

“Secara mendalam konsep dasar stunting mulai dari definisi hingga penyebab utamanya,  meliputi kurangnya asupan gizi, pola makan yang tidak seimbang, serta minimnya akses terhadap layanan kesehatan. Hal ini dapat menyebabkan dampak jangka panjang stunting terhadap anak, seperti terganggunya pertumbuhan fisik, keterlambatan perkembangan kognitif, dan rendahnya produktivitas di masa dewasa”. Ujar Dr. Agustina.

Dirinya juga menekankan pentingnya penerapan intervensi gizi terpadu sebagai upaya pencegahan dan penanganan stunting.

Strategi ini melibatkan edukasi gizi untuk meningkatkan pemahaman masyarakat tentang pentingnya pola makan sehat, pemberdayaan keluarga agar mampu mengelola sumber daya secara efektif, serta pemanfaatan kebun gizi sebagai solusi lokal yang berkelanjutan.

“Kolaborasi antara masyarakat, kader kesehatan, dan tenaga medis sangat penting dalam menciptakan lingkungan yang mendukung tumbuh kembang anak secara optimal”. Ungkapnya.

Karena itu, dirinya berharap agar masyarakat dapat lebih proaktif dalam mengatasi stunting melalui langkah-langkah sederhana namun berdampak besar bagi masa depan anak-anak.

Dirinnya juga menghimbau, agar masyarakat dapat memanfaatkan pengetahuan yang diperoleh dari kegiatan tersebut dengan menjalankan pola makan sehat dan menerapkan kebiasaan hidup bersih.

Orang tua juga didorong untuk aktif memantau tumbuh kembang anak mereka dan tidak ragu berkonsultasi dengan kader kesehatan atau petugas medis jika ditemukan masalah.

“Dengan kerja sama seluruh elemen masyarakat, kita dapat menciptakan generasi yang sehat, kuat, dan berkualitas.” Tutupnya.

Koordinator Kegiatan, Matje Meriaty Huru, SST., M. Kes, turut memberikan pernyataan. Menurutnya, Kader kesehatan memiliki peran penting sebagai garda terdepan dalam upaya mendeteksi dan mencegah stunting di tingkat komunitas.

Dirinya menyoroti keterlibatan aktif kader kesehatan tidak hanya mendukung tumbuh kembang anak, tetapi juga menjadi langkah strategis untuk menciptakan generasi yang lebih sehat dan berkualitas.

Hal ini diharapkan dapat menjadi motivasi bagi peserta untuk semakin berperan dalam upaya pemberantasan stunting melalui kerja sama yang solid di lingkungan mereka.

Sementara itu, Praktisi Kesehatan Komunitas, Tirza V. I. Tabelak, SST., M. Kes, menyampaikan bahwa dirinya telah memberikan pelatihan praktis di lokasi terkait pemanfaatan kebun gizi keluarga sebagai solusi untuk memenuhi kebutuhan nutrisi anak secara berkelanjutan.

Selain itu, dirinya juga memberikan langkah-langkah sederhana untuk mengelola kebun gizi, sekaligus memberikan inspirasi dengan contoh menu makanan bergizi yang dapat diolah menggunakan bahan-bahan lokal yang mudah didapatkan.

“Pelatihan tersebut dirancang untuk memberdayakan peserta agar mampu menyediakan asupan nutrisi yang seimbang bagi anak-anak mereka, sehingga dapat mendukung pertumbuhan dan perkembangan optimal. Pendekatan praktis ini memotivasi peserta untuk memanfaatkan potensi lokal dalam menciptakan pola makan sehat di keluarga masing-masing”. Jelas Tirza.

Dengan adanya kebun gizi keluarga, tambah Tirza, masyarakat dapat secara mandiri memenuhi kebutuhan gizi anak-anak mereka.

Selain itu, keberlanjutan kegiatan ini dapat mendukung terbentuknya sistem kesehatan masyarakat yang lebih tanggap terhadap masalah stunting.

Dikesempatan lain, Fasilitator Kader Kesehatan, Adriana M. S.Boimau, SST., M. Kes, menambahkan terkait bagaimana pentingnya monitoring tumbuh kembang anak, yang mencakup pengukuran berat badan, tinggi badan, dan lingkar kepala secara berkala, dan menekankan pentingnya konsistensi dalam pemantauan untuk mendeteksi dini potensi masalah pertumbuhan.

Selain itu, dirinya juga yang memandu sesi interaktif yang melibatkan peserta dalam praktik mencatat dan mengevaluasi data pemantauan, sehingga mereka dapat memahami cara menilai perkembangan anak secara efektif, dengan tujuan untuk membekali peserta dengan keterampilan praktis yang dapat diterapkan dalam komunitas agar mendukung tumbuh kembang anak secara optimal. (MN)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *