Tim Pengabmas Dukung Pemerintah Turunkan Angka Stunting

NASIONAL412 Dilihat

Derapperistiwa.id, | NTT,

Dalam rangka mendukung pemerintah menurunkan angka stunting di Nusa Tenggara Timur (NTT), Tim pengabdian masyarakat (Pengabmas) dari Poltekkes Kemenkes Kupang dengan dikoordinir, Loriana L. Manalor, M. Kes, memberikan edukasi pencegahan stunting bagi para kader posyandu.

Upaya ini perlu dilakukan agar dapat meningkatkan pengetahuan kader posyandu tentang stunting, termasuk penyebab, dampak, dan cara pencegahannya.

Selain itu, juga dapat membekali kader posyandu dengan informasi praktis untuk mendampingi keluarga di desa dalam pencegahan stunting. Hal ini disampaikan Loriana L. Manalor, M. Kes, kepada media pada Senin, 25/11/24.

Sebelumnya upaya ini pernah dilakukan dalam kegiatan sosialisasi dengan memberikan materi kepada para kader Posyandu di Desa Penfui Timur, dan Ibu hamil serta ibu menyusui dari masyarakat setempat, pada bulan Juli yang lalu.

Menurut Loriana, kegiatan yang dilaksanakan tersebut dapat memberikan edukasi terkait bagaimana pemenuhan gizi seimbang untuk ibu hamil dan balita.

Edukasi ini juga disampaikan tentang bagaimana pentingnya pola makan sehat selama periode 1000 hari pertama kehidupan, dimulai dari masa kehamilan hingga anak berusia dua tahun.

“Masa ini merupakan fase kritis yang menentukan tumbuh kembang anak, baik secara fisik maupun kognitif. Ibu hamil membutuhkan asupan gizi yang cukup dan seimbang, termasuk karbohidrat, protein, lemak sehat, vitamin, serta mineral untuk mendukung kesehatan ibu dan perkembangan janin”. Jelas Loriana.

Untuk balita, tambah Loriana, gizi seimbang menjadi fondasi utama dalam mencegah stunting dan mendukung pertumbuhan optimal.

Memberikan panduan praktis mengenai jenis makanan bergizi yang mudah diakses oleh masyarakat, serta menekankan pentingnya pemahaman kader posyandu untuk membantu edukasi gizi keluarga dalam mendukung kesehatan generasi masa depan.

Dirinya berharap agar edukasi kesehatan serupa dapat dilaksanakan secara berkelanjutan, sehingga semakin banyak kader yang terlatih dan mampu menjalankan peran mereka secara efektif.

“Kader posyandu diharapkan menjadi ujung tombak dalam menyampaikan informasi kesehatan kepada masyarakat desa, membantu meningkatkan kesadaran dan pemahaman masyarakat. Dengan langkah ini, diharapkan angka stunting di Desa Penfui Timur dapat berkurang secara signifikan dalam beberapa tahun ke depan, dan menciptakan generasi yang lebih sehat serta berkualitas”. Ujar Loriana.

Selain itu, dirinya juga memberikan pesan kepada masyarakat agar dapat membangun kolaborasi antara warga dan kader posyandu dalam memantau tumbuh kembang anak secara rutin.

“Masyarakat diharapkan dapat lebih aktif mendukung upaya kader dalam menjalankan tugasnya, terutama dalam memastikan setiap anak mendapatkan haknya untuk tumbuh sehat. Selain itu, perhatian khusus perlu diberikan pada pemenuhan gizi yang cukup dan seimbang bagi ibu hamil serta anak balita, mengingat peran gizi yang sangat penting dalam mencegah stunting dan mendukung pertumbuhan optimal”.bebernya.

Edukasi kesehatan yang diberikan juga diharapkan dapat dipahami sebagai bentuk investasi jangka panjang, karena kesehatan anak-anak hari ini akan menentukan kualitas generasi masa depan.

“Dengan kerja sama dan kesadaran bersama, upaya meningkatkan kesehatan masyarakat dapat berjalan lebih efektif dan berkelanjutan”. Tutupnya.

Sementara itu, Dr. Mareta B. Bakoil, SST., MPH, selaku Fasilitator Kader Posyandu menambahkan terkait tanggung jawab utama kader posyandu dalam mendampingi keluarga di masyarakat.

Menurutnya, sangatlah penting peran aktif kader dalam memberikan edukasi terkait pola asuh dan gizi, serta memastikan ibu hamil dan balita mendapatkan perhatian yang memadai.

“Pentingnya pemantauan pertumbuhan anak secara berkala melalui pengukuran berat badan, tinggi badan, dan lingkar kepala untuk mendeteksi potensi risiko stunting sejak dini”. Ucap Dr. Mareta.

Pendampingan yang konsisten oleh kader posyandu diharapkan dapat menjadi langkah efektif dalam menurunkan angka stunting di komunitas mereka.

Nursusilowaty, AMd. Keb, selaku Koordinator lapangan juga turut menambahkan bahwa strategi edukasi kesehatan bagi masyarakat desa dirancang untuk membekali kader Posyandu dengan keterampilan komunikasi efektif.

Dirinya menegaskan pentingnya menggunakan bahasa yang sederhana, lugas, dan sesuai dengan tingkat pemahaman masyarakat, sehingga informasi kesehatan dapat diterima dengan mudah.

“Perlunya menyampaikan pesan secara menarik dan relevan, dengan pendekatan yang empatik agar masyarakat merasa terlibat dan termotivasi untuk mengadopsi perilaku hidup sehat”. Ucap Nursusilowaty.

Panduan ini bertujuan membantu kader menjadi agen perubahan yang mampu menyampaikan informasi kesehatan dengan cara yang efektif dan berdampak positif bagi masyarakat desa. (MN)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *