Derapperistiwa.id | Jakarta,
Pengamat politik dari Pusat Studi Islam dan Demokrasi, Nazar el Mahfudzi, menilai bahwa keberhasilan pasangan Pramono-Doel mencerminkan pendekatan politik berbasis inklusi yang mampu menyentuh berbagai segmen masyarakat Jakarta.
Menurut Nazar, strategi kampanye Pramono-Rano didasarkan pada narasi yang relevan dengan kebutuhan sehari-hari warga ibu kota. Isu-isu seperti pengentasan banjir, pengembangan transportasi publik, hingga penambahan ruang hijau menjadi agenda utama yang dirasakan nyata oleh masyarakat.
“Pramono dan Rano mampu membumikan pesan-pesan mereka sehingga mudah dipahami oleh semua kalangan. Mereka tidak hanya bicara program, tetapi juga mampu menghadirkan solusi konkret yang membuat masyarakat merasa didengar,” ujar Nazar
Keberadaan Rano Karno sebagai calon wakil gubernur turut memperkuat daya tarik pasangan ini. Popularitas Rano di dunia seni, yang telah lama menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Jakarta, memberikan sentuhan emosional yang memengaruhi persepsi pemilih.
Nazar menyebut Rano sebagai figur yang berhasil menjembatani isu-isu teknokratis dengan pendekatan budaya yang akrab bagi banyak orang. “Rano membawa dimensi berbeda. Dia mampu menghubungkan program teknis dengan budaya pop yang akrab bagi masyarakat, membuat pasangan ini terasa lebih dekat dengan rakyat,” disampaikan Nazar sebagai analisis kekuatan politik Parpol dan popularitas Rano Karno.
Selain itu, Nazar menyoroti peran penting dukungan lintas kelompok dalam mengonsolidasikan suara untuk kemenangan Pram-Doel. Dukungan dari tokoh-tokoh politik yang berpengaruh, termasuk mantan Gubernur Anies Baswedan, memberikan legitimasi tambahan bagi pasangan ini.
Dukungan tersebut, kata Nazar, memberikan kepercayaan diri bagi pemilih yang sebelumnya ragu untuk memastikan pilihannya pada pasangan ini.
Salah satu elemen yang paling menonjol dalam kampanye Pramono Anung adalah iklan kreatif mereka di TikTok, yang secara khusus membahas isu kemacetan. Video tersebut menampilkan narasi ringan namun menyentuh, menggabungkan data nyata dengan visual yang menarik perhatian generasi muda. Dalam video itu, Pramono dipanggil Om dan menjelaskan kepada keponakannya bagaimana mengatasi polusi sekaligus kemacetan Jakarta. Solusinya adalah memperbanyak orang menaiki kendaraan umum yakni dengan memberi subsidi pada sebanyak 15 golongan masyarakat.
“Iklan itu brilian. Mereka tidak hanya menyampaikan masalah, tetapi juga memberikan solusi dalam format yang menghibur. Ini menunjukkan bahwa mereka benar-benar memahami bagaimana berbicara kepada pemilih muda, apalagi Pramono dipanggil Om di sana, terasa dekat sekali” tambah Nazar.
Kemenangan ini, menurut Nazar, menunjukkan bahwa politik Jakarta semakin dinamis dan sulit diprediksi. Namun, satu hal yang jelas adalah keberhasilan Pram-Doel dalam menciptakan koalisi inklusif yang melibatkan semua elemen masyarakat. Strategi ini, tambahnya, tidak hanya relevan di Jakarta tetapi juga menjadi pelajaran penting bagi daerah lain dalam merancang pendekatan politik yang efektif.
Di akhir wawancara, Nazar menyatakan bahwa kemenangan Pramono Anung dan Rano Karno ini akan menjadi batu loncatan untuk mengubah cara politik dijalankan di ibu kota.
“Kemenangan ini bukan hanya soal angka, tetapi juga tentang bagaimana membangun Jakarta yang lebih adil dan inklusif. Tantangan sesungguhnya adalah merealisasikan janji-janji kampanye menjadi kebijakan yang berdampak nyata bagi semua warga,” pungkas Nazar.
(D.Wahyudi)
