Ribka Tjiptaning, Ketua DPP PDIP Bidang Kesehatan, Kecam Pernyataan Ahmad Dhani Di Hari Perempuan Sedunia

NASIONAL658 Dilihat

Derapperistiwa.id | Jakarta,

Dalam rangka memperingati Hari Perempuan Internasional (International Women’s Day) 2025, Bidang Kesehatan DPP PDI Perjuangan bersama Forum Kedaulatan Kesehatan merayakannya bersama perempuan pasien kanker di RSUP Cipto Mangunkusumo Sabtu (8/3/2025).

Forum Kedaulatan Kesehatan merupakan sebuah forum komunikasi yang membahas persoalan kesehatan, riset, advokasi lapangan hingga kebijakan.

Kanker selalu menjadi momok penyakit yang menakutkan, berbiaya tinggi dan lekat dengan aroma kematian. Kanker merupakan penyakit serius yang dapat menyerang laki-laki dan perempuan.

Namun ada jenis kanker yang paling banyak dialami oleh perempuan, yakni kanker payudara, kanker serviks, kanker indung telur atau kanker ovarium, kanker rahim atau kanker uterus.

Kanker merupakan penyakit serius, selain memerlukan biaya tinggi dalam penanganannya,dan dampak psikologis bagi pasien dan keluarganya.

Kanker adalah penyebab kematian nomor dua di dunia, dan menyebabkan 9.6 juta kematian setiap tahunnya, angka ini hampir sama dengan jumlah penduduk Jakarta. Diperkirakan, 70% kematian akibat kanker terjadi di negara berkembang, termasuk Indonesia.

Menurut data dari Profil Kesehatan Indonesia tahun 2021, kanker serviks menempati peringkat kedua setelah kanker payudara, yaitu sebanyak 36.633 kasus atau 17,2% dari seluruh kanker pada wanita.

Jumlah ini memiliki angka mortalitas yang tinggi sebanyak 21.003 kematian atau 19,1% dari seluruh kematian akibat kanker. Secara global, kanker serviks merupakan kanker keempat yang paling umum pada wanita.

Pada tahun 2022 diperkirakan 660.000 wanita didiagnosis menderita kanker serviks di seluruh dunia. Sekitar 350.000 wanita meninggal karena penyakit tersebut. Hampir semua kasus kanker serviks (99%) terkait dengan infeksi HPV.

“Kalau yang lain-lain memperingati IWD dengan melakukan unjuk rasa, kami sengaja datang ke sini menyampaikan rasa. Karena kanker bukan hanya tentang penyakit, tapi juga tentang harapan, perjuangan, dan kebersamaan.

Kami datang ke sini, merayakan Hari Perempuan Internasional bersama perempuan-perempuan pejuang, para perempuan pasien kanker,memberikan dukungan secara moril kepada teman-teman pasien.” Ujar Ribka Tjiptaning,ketua DPP PDI Perjuangan Bidang Kesehatan.

Turut hadir dalam kesempatan ini antara lain Krisdayanti, Chica Koeswoyo, Wa Ode Herlina dan para perempuan kader pendamping kesehatan.

Krisdayanti dalam kesempatan ini menyoroti hilangnya devisa negara sebesar Rp 180 triliun,yang disebabkan banyaknya masyarakat Indonesia yang memilih berobat ke luar negeri.

Pernyataan hilangnya devisa ini merupakan sorotan pemerintah dalam Rapat Kerja Kementerian Kesehatan pada Rabu 24 April 2024. “Kehilangan ini semestinya menjadi evaluasi oleh pemerintah terkait layanan kesehatan, mengapa masyarakat lebih memilih berobat ke luar negeri.

Selain sebaran layanan kesehatan yang masih belum merata secara nasional, apa lagi yang perlu diperbaiki. Itu pemerintah harus bergegas.” Krisdayanti sendiri merupakan anggota DPR RI Komisi IX periode 2019 – 2024.

“Kalau tidak mau kehilangan devisa terus-menerus, ya harus perbaiki kualitas layanan dong,kualitatif dan kuantitatif. Bukan hanya teknologinya, tapi juga sumber daya manusianya.”Pungkas Krisdayanti.

DPP PDI Perjuangan Bidang Kesehatan menyampaikan terimakasih kepada semua dokter dan perawat yang memberikan layanan penuh kasih tanpa diskriminasi. Karena pelayanan seperti inilah yang dibutuhkan oleh pasien, khususnya pasien kanker. Pelayanan penuh kasih tanpa diskriminasi.

Patut menjadi perhatian bersama, apakah benar sudah semua dokter, perawat,tenaga medis dan layanan medis telah memberikan layanan yang penuh kasih dan non diskriminatif? Khususnya kepada mereka pasien yang berangkat dari ekonomi kurang mampu.

Ahmad Dani Rasis & Misoginis Beberapa hari ini, kita ditampar oleh sebuah kenyataan, dimana seorang anggota DPR dalam pernyataannya menempatkan perempuan tak ubahnya hewan ternak.

Kami mengecam pernyataan Ahmad Dhani agar pemain sepak bola asing yang memasuki usia pensiun dinaturalisasi dengan cara menikah dengan perempuan Indonesia.

Pernyataan Ahmad Dani dalam rapat Komisi X DPR RI bersama Kementerian Pemuda dan Olahraga serta PSSI terkait naturalisasi tiga calon pemain timnas Indonesia bukan hanya melecehkan perempuan, namun secara langsung melecehkan lembaga DPR RI.

Dari apa yang disampaikan oleh Ahmad Dani, menunjukkan bahwa kita masih berhadapan dengan situasi yang sangat diskriminatif terhadap perempuan.

Di momentum hari ini, kita diingatkan bahwa belum semua pihak berkomitmen dan bertindak atas komitmennya tersebut untuk memperjuangkan keadilan gender. Adil Gender. Perjuangan Perempuan Masih Panjang.

Dalam kesempatan ini, kami juga menyampaikan solidaritas kepada seluruh teman-teman buruh yang tidak lagi bekerja, khususnya buruh perempuan. Maraknya penutupan pabrik belakangan ini tentunya memberikan dampak yang besar kepada buruh, khususnya buruh perempuan.

Sebab apa, ketiadaan pekerjaan bukan hanya mengancam stabilitas ekonomi keluarga, namun juga memperberat kerentanan sosial yang ditanggung oleh kaum perempuan.

Berangkat dari hal ini, Negara harus hadir, guna memperkuat perlindungan sosial bagi buruh perempuan yang kehilangan pekerjaan. Negara tidak boleh mangkir, 19 juta lapangan pekerjaan yang menjadi janji politik Prabowo – Gibran harus segera dibuktikan, bukan hanya sekedar omon-omon belaka.

Masih banyak persoalan, namun tak semuanya dapat kami sampaikan melalui pernyataan ini.

Mengingat, persoalan perempuan adalah persoalan masyarakat, sebagaimana dijelaskan oleh Bung Karno. Apa-apa yang menjadi persoalan masyarakat adalah persoalan perempuan. Apa-apa yang menjadi persoalan perempuan adalah persoalan masyarakat.

Terakhir, kami tak bosan mengingatkan agar pemerintah mengkaji ulang program Makan Siang Gratis. Program yang mengambil banyak anggaran, menyebabkan dipangkasnya banyak anggaran dari sektor lain.

Kami tegaskan, Makan Siang Gratis adalah program mubazir!

Memberi makan siang gratis kepada anak-anak sekolah, namun merampas pekerjaan orangtuanya, sehingga tidak bisa memberikan makan malam.

Makan Siang Gratis harusnya sejalan dengan program nasional sebelumnya, yang sampai saat ini masih belum tuntas, yakni pemberantasan stunting.

Makan Siang Gratis harus dikaji ulang terkait sasaran penerima manfaat dan juga pelaksanaannya.

Selamat Hari Perempuan se Dunia!!!

Hidup Perempuan!!!

Hidup Perempuan Yang Berjuang!!!

 

Editor: D Wahyudi