Analis Politik Kevin O’Rourke: Sri Mulyani dan Airlangga Hartarto Bakal Mundur Setelah Lebaran 2025

NASIONAL2843 Dilihat

Derapperistiwa.id | Jakarta,

Analis politik Kevin O’Rourke menyebutkan bahwa Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati dan Menko Perekonomian Airlangga Hartarto akan mundur dari kabinet pemerintahan Prabowo-Gibran.

 

Kevin O’Rourke menuliskan mundurnya Sri Mulyani dan Airlangga Hartarto di Reformasi Weekly Review edisi 10 Maret 2025.

 

Kevin menulis, ia mendapat informasi dari ‘sumber yang kredibel’ bahwa perombakan kabinet akan segera terjadi setelah libur Idul Fitri pada tanggal 30 Maret atau setidaknya pada April setelah libur Idul Fitri.

 

Menurut dia, saat ini peran Sri Mulyani dalam pengambilan keputusan kabinet telah berkurang.

 

“Presiden Prabowo kemungkinan akan membuat perubahan di beberapa jabatan penting (di kabinet),” sebut Kevin.

 

Perubahan Kabinet

Di halaman kedua jurnal tersebut, Kevin menulis Menko Perekonomian Airlangga Hartarto kemungkinan akan digantikan oleh Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita.kemungkinan akan menggantikan Agus Gumiwang sebagai Menteri Perindustrian.

 

Menkeu Sri Mulyani Indrawati kemungkinan akan keluar, dan Wamenkeu Thomas Djiwandono kemungkinan akan menjadi Menkeu.

 

Wamenkeu lainnya, yaitu Anggito Abimanyu, kemungkinan akan menjadi kepala Badan Pendapatan Nasional yang baru.

 

Selain itu, Kevin memprediksi Menteri Koperasi Arie Budi Setiadi kemungkinan akan terpental dari kabinet terkait skandal judi online di Kominfo yang dipimpinnya pada 2024 lalu.

 

“Meutya Hafid mungkin akan kehilangan jabatannya sebagai Menteri Komunikasi saat ini karena dianggap tidak mampu menyelesaikan dualisme di Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), dan kasus impor gula yang melibatkan suaminya (bersama mantan Menteri Perdagangan Tom Lembong),” tulisnya.

 

Namun ia menambahkan, mundurnya Sri Mulyani dari kabinet belum sepenuhnya pasti dan selama tiga minggu ke depan perubahan signifikan bisa saja, memengaruhi corak perombakan kabinet.

 

“Yang pasti, sudah jelas bahwa Indrawati telah mengalami kehilangan pengaruh yang drastis. Presiden mengabaikannya dalam masalah tarif pajak pertambahan nilai (PPN), mengecualikannya dari pengambilan keputusan tentang pemotongan anggaran yang sangat penting, dan menahan Direktur Jenderal Anggaran yang dipercayainya atas tuduhan yang tidak berdasar,” tulis Kevin.

 

*Terbuangnya Teknokratis*

 

Ia menganalisis, jika Sri Mulyani positif keluar dari kabinet, hal itu akan menegaskan bahwa Presiden Prabowo telah membuang etos teknokratis yang sudah lama ada dalam pembuatan kebijakan ekonomi makro yang membuat banyak negara ekonomi berkembang iri.

 

“Mengganti Indrawati dengan Djiwandono, keponakan presiden, akan menandai perubahan besar. Hal itu akan memperkuat persepsi bahwa pemerintahan mengganti meritokrasi dengan tata kelola yang didasarkan pada kesetiaan pribadi atau ‘kesetiaan’,” sebut Kevin.

(D. Wahyudi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *