Derapperistiwa.id | Garut,
Euforia pesta pernikahan Wakil Bupati Garut, Putri Karlina, dengan Maula Akbar, putra Gubernur Jawa Barat Kang Dedi Mulyadi, berubah menjadi tragedi memilukan. Acara yang digelar megah di kawasan Pendopo Garut dan Alun-Alun Babancong, Jumat (18/7/2025), justru memakan korban jiwa: tiga orang tewas dan belasan lainnya tumbang akibat desak-desakan brutal demi makanan gratis.
Acara ini seharusnya menjadi perayaan penuh sukacita, dengan aneka sajian kuliner dari 25 kabupaten/kota di Jawa Barat yang dibagikan gratis. Namun, buruknya manajemen kerumunan dan pengabaian protokol keselamatan membuat ribuan warga berdesakan tak terkendali sejak pukul 14.00 WIB.
Tragedi tak terhindarkan ketika kerumunan di area tenda makanan berubah menjadi lautan manusia saling dorong, saling injak, dan panik. Tiga korban tewas dalam kekacauan tersebut adalah:
Cecep Saepul Bahri, S.H. – Bripka BHABINKAMTIBMAS Polsek Karangpawitan, lahir di Majalengka (1986), warga Sukamentri, Garut Kota.
Vania Apriliani (8 tahun) – Anak perempuan, warga Kampung Sindangheula, Garut Kota.
Dewi Jubaedah (61 tahun) – Warga Desa Sukaluyu, Kecamatan Sukawening.
Selain korban meninggal, belasan warga dilaporkan pingsan, sebagian besar ibu-ibu dan anak-anak. Mereka dilarikan ke sejumlah fasilitas kesehatan terdekat setelah mengalami sesak napas dan kelelahan akibat kekacauan yang tak tertangani.
Ironisnya, insiden maut ini terjadi dalam acara mewah milik anak-anak pejabat. Masyarakat mempertanyakan: di mana antisipasi panitia? Di mana tanggung jawab pengamanan?
Menanggapi insiden ini, Gubernur Jawa Barat Kang Dedi Mulyadi yang juga ayah dari mempelai pria, mengungkapkan bela sungkawa dan janji santunan sebesar Rp150 juta per korban jiwa. Ia juga berjanji menanggung pendidikan anak-anak korban hingga perguruan tinggi.
“Saya tidak tahu detail kejadian ini, tapi sebagai pemimpin saya bertanggung jawab. Ini bentuk empati kepada keluarga korban,” ujar Kang Dedi.
Namun publik tak puas dengan hanya ucapan duka dan santunan. Tragedi ini menyisakan luka dan menampar keras wajah penguasa yang lalai menata pesta rakyat. Pesta mewah tak seharusnya jadi ajang pengorbanan nyawa rakyat kecil.
Pertanyaannya kini, siapa yang benar-benar akan bertanggung jawab? Ataukah semuanya akan terkubur bersama meredupnya sorotan media? **(Tim Redaksi).
