Prostitusi Online Menggila, Hotel-Hotel Jadi Sarang Transaksi Syahwat! 

NASIONAL560 Dilihat

Derapperistiwa.id | Banyumas, Jawa Tengah,

Di balik gemerlap lampu kota dan gempuran teknologi digital, Purwokerto menyimpan luka moral yang kian menganga. Prostitusi online kini menjelma jadi bisnis gelap paling menggiurkan, melibatkan remaja, bahkan anak di bawah umur, dengan jaringan yang terstruktur rapi hingga ke dalam hotel-hotel ternama.(06/8/2025).

Investigasi Media LIN-RI.com yang dipimpin langsung Pemimpin Redaksi Trianto membongkar fakta mencengangkan. Lewat aplikasi Michat, Tinder, Telegram, hingga Facebook, pekerja seks komersial (PSK) memasarkan tubuh mereka secara terbuka. Transaksi terjadi cepat, kamar hotel menjadi arena eksekusi, dan mirisnya—ada oknum pegawai hotel yang diduga ikut memuluskan bisnis lendir ini.

“Aku stay di Purwokerto sudah 5 tahun, cuma pindah-pindah hotel,” ungkap Mawar (nama samaran), seorang PSK yang mengaku beroperasi via aplikasi Michat.

Lebih kejam lagi, Bunga (nama samaran), seorang mucikari, mengaku punya jaringan anak buah di berbagai hotel. “Hampir setiap hotel ada pegawai yang kerjasama. Mereka dapat fee Rp20.000–Rp30.000 setiap pelanggan,” bebernya tanpa ragu.

Motif di balik maraknya prostitusi online bukan sekadar ekonomi. Tekanan gaya hidup, obsesi mengikuti tren fesyen dan hiburan, hingga trauma masa lalu, mendorong banyak milenial terjun ke dunia kelam ini. Mereka hidup ganda: tampil modis di media sosial, namun diam-diam menggadaikan tubuh demi bertahan hidup. Rokok, alkohol, dan narkoba menjadi teman setia di balik pintu kamar.

Fenomena ini menjadi tamparan keras bagi Pemerintah Kabupaten Banyumas. Tak hanya soal pelanggaran hukum, tetapi juga soal kehancuran moral generasi. Bisnis haram ini sudah menjelma tren, dijalankan bak perusahaan dengan manajemen “profesional” dan jaringan distribusi rapi.

 

Pemerintah daerah didesak segera bertindak tegas:

Penegakan hukum tanpa pandang bulu pada mucikari, pelaku, dan oknum hotel.

Regulasi ketat pada aplikasi yang rawan disalahgunakan.

Program rehabilitasi dan penyuluhan moral bagi korban.

Pemberdayaan ekonomi untuk mencegah remaja terjerumus.

Tanpa langkah serius, Purwokerto hanya tinggal menunggu waktu menjadi “Kota Wisata Syahwat” yang rusak dari dalam.**(Tim Redaksi).

(Bersambung)……

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *