Derapperistiwa.id | Pati, Jateng-
Kesepakatan damai antara Bupati Sudewo dan Yayak Gundul kini dianggap tak lebih dari sandiwara politik murahan. Alih-alih meredam amarah, justru menjadi pemicu gelombang perlawanan rakyat yang makin membara.
Di tengah aroma ketidakadilan yang menusuk, suara rakyat Pati bergemuruh: “Kami tidak tunduk! Kami lawan!”. Panitia Aliansi Masyarakat Pati Bersatu (AMPB) menegaskan, Yayak Gundul bukan bagian dari mereka, dan tak ada satu pun kesepakatan yang mampu menghentikan langkah menuju 13 Agustus – Hari Perhitungan.
“Ini bukan sekadar demo pajak. Ini perlawanan terhadap penguasa yang semena-mena memecat pegawai yang mengabdi 10 tahun, mempertahankan yang baru 2 tahun, menyingkirkan yang tak sejalan, dan merangkap jabatan seenaknya! Kami sudah muak!” tegas juru bicara AMPB dengan suara bergetar menahan amarah.
Bantuan logistik mengalir bagaikan arus banjir bandang: 300 dus air mineral dari ormas Lindu Aji dan Garda Prabowo, 300 paket makanan Jumat Berkah, keranjang-keranjang buah dari pedagang Puri, ketela dari petani desa, hingga kiriman dana dari perantau di Sumatera dan Kalimantan. Gudang penyimpanan sudah tak mampu menampung — bantuan tumpah ke jalanan, menjadi simbol bahwa rakyat siap bertempur.
Dari kampung hingga kota, bisik-bisik perlawanan semakin keras. 13 Agustus 2025 akan menjadi panggung rakyat Pati untuk mengirim pesan keras: Arogansi kekuasaan akan digulung oleh gelombang rakyat bersatu.
“Sudewo harus tahu, kekuasaan bukan hak milik pribadi. Kami datang bukan untuk memohon, kami datang untuk menuntut!” teriak seorang tokoh warga, suaranya menggema di antara bendera-bendera perlawanan yang mulai berkibar.
Pati bersiap. Rakyat bangkit. Dan 13 Agustus akan menjadi hari di mana tangan-tangan yang selama ini dikepalkan, akan diangkat tinggi — bukan untuk meminta, tapi untuk menggebrak! **Tim Redaksi
