Derapperistiwa.id | Jakarta,
Pakar geopolitik dan pertahanan nasional, Prof. Dr. Connie Rahakundini Bakrie, menegaskan bahwa Indonesia memiliki potensi besar untuk kembali menjadi kekuatan maritim dan geopolitik utama di kawasan Indo-Pasifik, sebagaimana pernah dicapai pada masa kepemimpinan Presiden Soekarno.
Dalam forum diskusi internasional bertajuk “Rise of Indonesia: BRICS & Maritime Power” bersama akademisi global Glenn Diesen, Prof. Connie menguraikan bagaimana posisi strategis Indonesia dapat diperkuat melalui diplomasi global, kerja sama internasional, serta peran aktif dalam koalisi BRICS (Brazil, Russia, India, China, South Africa).
“Indonesia adalah negara yang tidak bisa dipandang sebelah mata. Secara geografis, ekonominya menjanjikan, dan secara geopolitik kita punya posisi yang menentukan dalam jalur perdagangan global,” tegas Prof. Connie.
Prof. Connie mengingatkan bahwa fondasi politik luar negeri Indonesia telah diletakkan kokoh oleh Presiden Soekarno melalui prinsip kemandirian dan keberanian berdiri di atas kaki sendiri.
Soekarno adalah tokoh yang menolak tunduk pada blok manapun di era Perang Dingin, dan justru mendirikan Gerakan Non-Blok (Non-Aligned Movement) sebagai simbol kedaulatan politik bangsa di tengah tekanan dua superpower dunia.
Pidato Soekarno di Sidang Umum PBB kala itu menjadi penegas bahwa Indonesia tidak hanya bicara tentang kemerdekaan politik, tapi juga harga diri bangsa di mata dunia.
Era Soekarno juga diwarnai dengan pembangunan militer tangguh dan disegani. Indonesia pernah dikenal sebagai salah satu kekuatan militer terbesar di belahan bumi selatan.
Keberhasilan reintegrasi Papua tanpa konfrontasi langsung dengan Amerika Serikat maupun Belanda menunjukkan bahwa strategi diplomasi dan kekuatan militer Indonesia kala itu efektif dan ditakuti.
“Para pilot tempur Indonesia saat itu mampu menandingi kemampuan udara kekuatan besar seperti Uni Soviet,” ungkap Prof. Connie.
Fakta tersebut membuktikan bahwa Indonesia memiliki kapasitas militer strategis dan mental kemandirian yang kuat.
Dalam konteks kekinian, Prof. Connie melihat peluang besar bagi Indonesia untuk memperkuat kembali posisinya di kancah global melalui kolaborasi BRICS.
Dengan sumber daya maritim yang besar dan pertumbuhan ekonomi yang stabil, Indonesia dinilai mampu menjadi jembatan antara Asia dan Dunia Selatan dalam menciptakan keseimbangan global yang lebih adil dan multipolar.
“Visi Indonesia sebagai Poros Maritim Dunia bukan sekadar slogan, tapi strategi besar untuk memastikan kedaulatan laut, perdagangan, dan pertahanan tetap kuat menghadapi perubahan global,” ujar Prof. Connie.
Melalui pandangan strategis Prof. Connie Rahakundini Bakrie, Indonesia tengah berada di ambang kebangkitan baru.
Dengan warisan diplomasi Soekarno, kekuatan militer modern, dan peran aktif dalam BRICS, Indonesia berpotensi besar menegaskan diri sebagai poros maritim dan kekuatan geopolitik baru dunia di abad ke-21.**(Pajar Saragih / redaksi).













