Agroforestri Bengkalis Dibidik Jadi Mesin Ekonomi, KADIN Riau Gandeng Pengusaha Porang

RIAU15 Dilihat

Derapperistiwa.id | Bengkalis,

Budidaya porang Bengkalis Riau mulai diarahkan untuk dikembangkan berdampingan dengan tanaman kehutanan geronggang. Gagasan tersebut mengemuka setelah Kamar Dagang dan Industri Indonesia (KADIN) Riau mempertemukan pengusaha porang dengan pengelola sentra budidaya geronggang di Desa Air Putih, Kecamatan Bengkalis.

 

Ketua Umum KADIN Riau Masuri, SH alias Mas Bagong bersama sejumlah pengurus membawa Direktur Utama PT Mitra Porang Nusantara (MPN), Deny Wiliyanto, melihat langsung sentra budidaya geronggang yang dikelola Koperasi Produsen Ikatan Pemuda Melayu Peduli Lingkungan (Kop-PIPMPL).

 

Kunjungan tersebut berlangsung pada 25 Juli 2026. Selain Deny Wiliyanto, rombongan KADIN Riau terdiri atas Ir. Siswo Pranoto, MT selaku Wakil Ketua Umum KADIN bidang Riset, Teknologi dan Inovasi, Ir. Kholis Romli, MP selaku Direktur Eksekutif KADIN, serta Arpi Marzuki, S.Pi selaku Ketua Komtap KADIN bidang Kewirausahaan.

 

Ketua Kop-PIPMPL Solihin mengatakan kunjungan KADIN Riau bukan sekadar kegiatan seremonial. Menurut dia, pertemuan tersebut membuka peluang untuk menggabungkan budidaya geronggang dengan porang dalam satu kawasan.

 

“Pak Deny Direktur Utama PT.MPN, setelah melihat kondisi lapangan terhadap sistem budidaya geronggang yang tersusun rapi serta tersedianya nya ruang-ruang kosong dibawah tegakan pohon sehingga dapat ditanami porang, beliau sangat serius untuk membangun kerjasama dengan kami (Kop- PIPMPL). apa lagi pihak PT.MPN telah membangun pabrik pengolahan Porang di wilayah perawang Kabupaten Siak yang bersebelahan dengan Kabupaten Bengkalis. Kami dari koperasi, cukup berterima kasih dengan mas Bagong atas upaya yang telah dilakukannya menyandingkan kami pelaku usaha kecil dengan sentral Industri Porang yang selama ini tidak kami ketahui potensinya” papar mantan aktifis lingkungan tersebut.

 

Solihin menjelaskan, karakteristik tanaman geronggang dinilai cocok dengan kebutuhan porang. Pohon geronggang memiliki sistem perakaran yang membantu mempertahankan kelembapan lahan gambut, sementara porang membutuhkan kondisi lahan lembap dan naungan agar tidak terpapar langsung sinar matahari.

 

Kondisi tersebut membuat lahan di bawah tegakan geronggang dinilai masih dapat dimanfaatkan untuk tanaman porang tanpa harus membuka kawasan baru.

 

Konsep itu sekaligus menjadi bagian dari gagasan agroforestri yang selama ini dikembangkan Kop-PIPMPL. Model tersebut menggabungkan tanaman kehutanan, perkebunan, dan pertanian dalam satu hamparan sehingga produktivitas lahan dapat ditingkatkan tanpa menghilangkan fungsi tanaman kehutanan.

 

Solihin menilai konsep agroforestri penting diterapkan di tengah pertumbuhan penduduk dan meningkatnya kebutuhan ekonomi. Menurut dia, keterbatasan lahan harus dijawab dengan pola pemanfaatan ruang yang lebih produktif dan tetap memperhatikan lingkungan.

 

” jika konsep tersebut gagal diterapkan mengingat pertumbuhan penduduk makin pesat, kebutuhan makin meningkat sementara lahan tidak bertambah, otomatis demi untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia jangan kan kawasan hutan yang telah gundul, kawasan hutan konservasi murni pun kedepan nya nanti akan berubah fungsi di manfaatkan oleh manusia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.”

 

Porang dan Geronggang Disiapkan dalam Satu Hamparan

Selain porang, Kop-PIPMPL juga menyiapkan pengembangan tanaman kratom di kawasan yang sama. Solihin menyebut tanaman tersebut memiliki potensi ekonomi untuk pasar internasional.

 

“Selain Porang dengan geronggang juga pada hamparan lahan yang sama, kami juga akan mengkombinasi dengan tanaman Kratom yang nilai ekonominya untuk pasar internasional cukup menjanjikan. Bahkan perhektar pertahun bisa miliyaran rupiah.”

 

Menurut Solihin, pihak koperasi juga telah menjajaki peluang hilirisasi kratom melalui koordinasi dengan PT DJB di Kalimantan Timur. Perusahaan tersebut disebut sebagai eksportir kratom dari wilayah Kalimantan Timur dan Kalimantan Barat.

 

Koperasi bahkan telah mengirimkan sampel kratom yang tumbuh di lahan gambut Pulau Bengkalis ke laboratorium perusahaan tersebut. Hasil pengujian, menurut Solihin, menunjukkan kualitas yang disebut setara dengan kratom dari Kalimantan.

 

” Terkait peluang hilirisasi kratom sejauh ini kami telah berkordinasi dengan PT.DJB di Kalimantan Timur selaku exsportir keratom wilayah Kalimantan Timur dan Kalimantan Barat ke luar negeri, mereka siap untuk bekerjasama dengan koperasi kita, bahkan kita juga telah mengirim sampel kratom yang tumbuh di lahan gambut pulau Bengkalis ke labornya PT.DJB, hasilnya setara dengan yang ada di Kalimantan.”

 

Bidik Lapangan Kerja dan PAD

Pengembangan agroforestri tersebut tidak hanya diarahkan untuk meningkatkan produktivitas lahan. Kop-PIPMPL juga melihat peluang penciptaan lapangan kerja serta peningkatan pendapatan masyarakat.

 

Solihin berharap potensi tersebut mendapat dukungan Pemerintah Provinsi Riau dan Pemerintah Kabupaten Bengkalis. Ia mendorong sinergi antara pemerintah daerah, BUMD, koperasi dan masyarakat agar potensi sumber daya alam dapat dikembangkan menjadi kegiatan ekonomi yang berkelanjutan.

 

“Selanjutnya kami dari pihak koperasi coba ingin berkordinasi dengan Pemprov Riau maupun Pemda Bengkalis untuk bagaimana peluang ini selain bisa membuka peluang pekerjaan serta peningkatan pendapatan ekonomi masyarakat, juga berpotensi menjadi bagian dari sumber Pendapatan Asli Daerah ( PAD) jika keberadaan BUMD propinsi dan BUMD Kabupaten,Koperasi dan masyarakat saling bersinergi memenfa’atkan potensi sumberdaya alam dan sumber daya manusia yang ada” papar Solihin.

 

Bagi KADIN Riau, pertemuan antara pengusaha porang dan pengelola geronggang menjadi langkah awal untuk mempertemukan potensi usaha masyarakat dengan industri pengolahan.

 

Dengan keberadaan pabrik pengolahan porang di Perawang, Kabupaten Siak, yang berdekatan dengan Bengkalis, pengembangan budidaya porang di lahan yang telah memiliki tegakan geronggang dinilai memiliki peluang untuk membangun rantai usaha dari sektor budidaya hingga hilirisasi.

 

Konsep tersebut diharapkan dapat memperkuat ekonomi masyarakat sekaligus mendorong pemanfaatan lahan melalui pola agroforestri yang menggabungkan kepentingan ekonomi dan kelestarian lingkungan.**

Sumber : Romi satuju.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *