Kembali Jadi Sorotan! Usai Polemik Limbah dan Kepala Lele, Kini Menu Bistik Daging SPPG Kota Bangun Dikeluhkan Alot Bak Karet

DAERAH280 Dilihat

Derapperistiwa.id | Kampar,

Di tengah upaya Badan Gizi Nasional (BGN) melakukan pembenahan dan peningkatan kualitas pelayanan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di seluruh Indonesia, pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) oleh SPPG Kota Bangun, Kecamatan Tapung Hilir, Kabupaten Kampar, Riau, kembali menuai sorotan publik.

L

 

Kali ini, keluhan datang dari siswa berbagai jenjang pendidikan, mulai dari Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), Madrasah Tsanawiyah (MTs), hingga Sekolah Menengah Atas (SMA) yang berada di wilayah kerja SPPG Kota Bangun.

 

Keluhan tersebut berkaitan dengan kualitas menu bistik daging yang didistribusikan kepada sekolah-sekolah penerima manfaat program MBG pada Senin (02/11/2026).

 

Menu daging yang seharusnya menjadi salah satu sumber protein hewani untuk mendukung pemenuhan gizi siswa justru dikeluhkan karena teksturnya dinilai terlalu keras, alot, dan sulit digigit maupun dikunyah.

 

Persoalan tersebut menjadi perbincangan di lingkungan sekolah hingga media sosial setelah muncul keluhan dari sejumlah siswa, guru, serta orang tua penerima manfaat.

 

Ironisnya, menu bistik daging yang semestinya menjadi sajian istimewa dan menggugah selera justru disebut-sebut memiliki tekstur alot bak karet.

 

Keluhan yang datang dari berbagai jenjang pendidikan tersebut menjadi perhatian tersendiri, mengingat penerima manfaat program MBG memiliki rentang usia dan kemampuan mengunyah yang berbeda-beda.

 

Belum Usai Polemik Sebelumnya, Kini Muncul Keluhan Baru

 

SPPG Kota Bangun sebelumnya juga sempat menjadi sorotan publik terkait sejumlah persoalan dalam pelaksanaan program MBG.

 

Di antaranya, dugaan pengelolaan limbah dapur MBG yang tidak sebagaimana mestinya serta polemik penyajian menu kepala ikan lele kepada penerima manfaat, termasuk siswa kelas rendah, balita, dan ibu hamil beberapa waktu yang lalu.

 

Belum sepenuhnya mereda perhatian publik terhadap persoalan tersebut, kini muncul keluhan baru mengenai kualitas olahan bistik daging yang didistribusikan kepada siswa dari berbagai jenjang pendidikan.

 

Kondisi ini kembali memunculkan pertanyaan mengenai efektivitas pengawasan proses pengolahan makanan, penerapan standar penyajian, serta pemeriksaan kualitas menu sebelum didistribusikan kepada penerima manfaat.

 

Padahal, program MBG merupakan salah satu program strategis pemerintah yang bertujuan meningkatkan pemenuhan kebutuhan gizi masyarakat, khususnya anak-anak sekolah, balita, dan ibu hamil.

 

Karena itu, kualitas makanan yang disajikan tidak cukup hanya dinilai dari kandungan gizinya, tetapi juga harus memperhatikan tingkat kematangan, tekstur, cita rasa, kebersihan, serta kesesuaian menu dengan kebutuhan dan kemampuan konsumsi masing-masing kelompok penerima manfaat.

 

Siswa SD hingga SMA Keluhkan Daging Alot, Sejumlah Porsi Makanan Tidak Dihabiskan

 

Berdasarkan informasi yang dihimpun Tim Media, keluhan mengenai tekstur bistik daging tidak hanya berasal dari satu sekolah atau satu jenjang pendidikan.

 

Sejumlah siswa dari tingkat SD, SMP, MTs, hingga SMA yang masuk dalam wilayah pelayanan SPPG Kota Bangun dilaporkan mengalami kesulitan saat mengonsumsi menu bistik daging yang dibagikan pada Senin tersebut.

 

Daging yang diharapkan menjadi sumber asupan protein hewani justru dinilai terlalu alot, sehingga menyulitkan siswa saat menggigit dan mengunyah.

 

Bahkan, berdasarkan informasi yang diterima redaksi, terdapat sejumlah porsi makanan dalam ompreng yang tidak dihabiskan siswa karena tekstur daging yang dinilai terlalu keras.

 

Keluhan dari berbagai jenjang pendidikan ini menjadi perhatian karena menunjukkan perlunya pemeriksaan lebih lanjut terhadap kualitas olahan makanan yang didistribusikan.

 

Kondisi tersebut sangat disayangkan, mengingat menu berbahan dasar daging merupakan salah satu sumber protein hewani yang penting untuk mendukung pertumbuhan dan perkembangan anak.

 

Apabila makanan yang disajikan tidak dapat dikonsumsi secara optimal, tujuan pemenuhan gizi melalui program MBG berpotensi tidak tercapai sebagaimana yang diharapkan.

 

Selain itu, makanan yang tidak dihabiskan juga berpotensi menimbulkan pemborosan, mengingat pengadaan dan penyediaan menu MBG menggunakan anggaran negara yang semestinya memberikan manfaat maksimal bagi seluruh penerima manfaat.

 

Guru dan PIC Sekolah Sampaikan Keluhan, Korlap SPPG Kota Bangun Minta Maaf

 

Keluhan mengenai kualitas bistik daging tersebut tidak hanya menjadi pembicaraan di kalangan siswa dan orang tua, tetapi juga telah disampaikan oleh sejumlah guru yang bertugas sebagai penanggung jawab atau Person in Charge (PIC) program MBG di sekolah.

 

Berdasarkan informasi yang diperoleh Tim Media, beberapa PIC sekolah telah melaporkan persoalan tersebut kepada Awin, selaku Koordinator Lapangan (Korlap) SPPG Kota Bangun.

 

Dalam laporan yang disampaikan, pihak sekolah mengeluhkan tekstur bistik daging yang dinilai terlalu keras dan sulit dikunyah oleh siswa.

 

Menanggapi laporan tersebut, Awin menyampaikan permohonan maaf sekaligus menyatakan bahwa pihaknya akan segera melakukan perbaikan terhadap tekstur daging yang disajikan.

 

“Waallaikumsalsm baik buk akan segera kami perbaiki terkait tekstur daging, kamii mohon maaf yang sebesar besarnya🙏,” tulis Awin dalam balasan pesan kepada PIC sekolah.

 

Respons tersebut menunjukkan bahwa keluhan mengenai tekstur daging telah mendapat tanggapan dari pihak koordinator lapangan SPPG Kota Bangun.

 

Meski demikian, permohonan maaf tersebut diharapkan diikuti dengan langkah evaluasi dan perbaikan nyata, terutama terhadap proses pemilihan bahan baku, teknik pengolahan, serta pemeriksaan kualitas makanan sebelum didistribusikan.

 

Sebab, keberhasilan program MBG tidak hanya diukur dari jumlah porsi makanan yang berhasil didistribusikan setiap hari, tetapi juga dari kualitas, keamanan, serta kemampuan penerima manfaat untuk mengonsumsi makanan yang disediakan.

 

Kepala Sekolah Minta Pemeriksaan Kualitas Menu Diperketat

 

Menanggapi persoalan tersebut, pihak sekolah berharap kejadian serupa tidak kembali terulang pada pendistribusian menu MBG berikutnya.

 

Kepala Sekolah MTs Roudlotul Hidayah Kota Bangun Lilik Wahyudi SE melalui media mengharapkan agar pengelola SPPG Kota Bangun lebih teliti dalam melakukan pemeriksaan terhadap kualitas makanan sebelum dikirimkan kepada siswa.

 

Pemeriksaan tersebut dinilai penting untuk memastikan setiap menu yang disajikan benar-benar layak dikonsumsi, memiliki tekstur sesuai usia penerima manfaat, serta memenuhi standar kualitas makanan.

 

Pihak sekolah juga berharap petugas dapur, termasuk juru masak atau chef, lebih memperhatikan teknik pengolahan bahan makanan, terutama menu berbahan dasar daging yang membutuhkan proses memasak secara tepat agar menghasilkan tekstur empuk dan mudah dikunyah.

 

Menu daging yang memiliki nilai gizi tinggi dan mungkin tidak setiap hari dapat dinikmati oleh sebagian siswa seharusnya menjadi sajian yang memberikan manfaat maksimal, bukan justru terbuang karena sulit dikonsumsi.

 

Komite SMPN 5 Tapung Hilir Soroti Pengawasan dan Evaluasi SPPG

 

Munculnya keluhan terhadap kualitas menu MBG di wilayah kerja SPPG Kota Bangun turut mendapat perhatian dari Komite SMP Negeri 5 Tapung Hilir, Nefrizal Pili.

 

Kepada media, Selasa (03/11/2026), Nefrizal menilai persoalan tersebut perlu menjadi bahan evaluasi serius bagi pihak pengelola SPPG maupun instansi yang memiliki kewenangan melakukan pembinaan dan pengawasan.

 

Menurutnya, keluhan mengenai tekstur makanan tidak boleh dianggap sebagai persoalan sepele, mengingat penerima manfaat program MBG berasal dari berbagai jenjang pendidikan dengan kebutuhan dan kemampuan konsumsi yang berbeda.

 

“Persoalan tekstur daging yang terlalu alot memang tidak serta-merta menunjukkan bahwa makanan tersebut tidak aman dikonsumsi. Namun, kondisi tersebut dapat menjadi indikator perlunya evaluasi terhadap pemilihan bahan baku, metode pengolahan, serta pemeriksaan mutu makanan sebelum didistribusikan,” tegas Nefrizal.

 

Persoalan tersebut dinilai perlu menjadi perhatian karena makanan yang secara kandungan gizi telah memenuhi kebutuhan belum tentu dapat memberikan manfaat maksimal apabila sulit dikonsumsi oleh penerimanya.

 

Pengawasan terhadap penyelenggaraan MBG diharapkan tidak hanya berfokus pada kelengkapan administrasi, kebersihan dapur, dan ketepatan waktu pendistribusian, tetapi juga pada kualitas makanan yang benar-benar diterima siswa.

 

Dengan demikian, program MBG tidak sekadar menjadi kegiatan pembagian makanan secara rutin, melainkan benar-benar mampu memberikan manfaat nyata bagi kesehatan, pertumbuhan, dan pemenuhan gizi anak-anak.

 

BGN Diharapkan Lakukan Evaluasi, Kualitas Menu MBG Harus Menjadi Prioritas

 

Berbagai keluhan yang muncul terhadap pelaksanaan program MBG di SPPG Kota Bangun diharapkan menjadi perhatian serius bagi pihak pengelola serta jajaran Badan Gizi Nasional.

 

Terlebih lagi, keluhan mengenai menu bistik daging kali ini dilaporkan berasal dari siswa lintas jenjang pendidikan, mulai dari SD, SMP, MTs, hingga SMA yang berada dalam wilayah kerja SPPG Kota Bangun.

 

Evaluasi menyeluruh dinilai diperlukan agar persoalan serupa tidak terus berulang dan berpotensi menurunkan kepercayaan masyarakat terhadap pelaksanaan program strategis pemerintah tersebut.

 

Pembenahan tidak hanya diperlukan pada aspek administrasi dan pengelolaan dapur, tetapi juga pada pengawasan bahan baku, teknik memasak, kualitas hasil olahan, hingga prosedur pemeriksaan makanan sebelum didistribusikan.

 

Masyarakat tentunya berharap anggaran negara yang dialokasikan untuk program MBG benar-benar menghasilkan makanan yang tidak hanya memenuhi kebutuhan gizi secara perhitungan, tetapi juga layak, aman, memiliki cita rasa yang baik, dan mudah dikonsumsi oleh penerima manfaat.

 

Jangan sampai menu bergizi yang disiapkan menggunakan anggaran negara justru berakhir menjadi makanan tersisa karena kurang optimalnya proses pengolahan dan pengawasan kualitas.

 

Sementara itu, meskipun Awin selaku Korlap SPPG Kota Bangun telah menyampaikan permohonan maaf dan menyatakan akan melakukan perbaikan terkait tekstur daging, hingga berita ini disusun, tim media belum memperoleh penjelasan resmi secara terperinci dari Kepala SPPG Kota Bangun mengenai penyebab persoalan tersebut maupun langkah evaluasi yang akan dilakukan meskipun media telah melakukan konfirmasi kepada pihak SPPG.

 

Tim Media tetap membuka ruang hak jawab dan klarifikasi bagi Kepala SPPG Kota Bangun serta pihak terkait untuk memberikan penjelasan mengenai proses pengolahan, pemeriksaan kualitas, dan langkah perbaikan terhadap menu MBG yang dikeluhkan.**

Editor : Redaksi.

Sumber Nefrizal Pili.

Posting Terkait

Jangan Lewatkan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *