Perlunya Pendampingan Pijat Bayi Sebagai Penguatan Pencegahan Stunting

NASIONAL606 Dilihat

Derapperistiwa.id, | NTT,

Pendampingan pijat bayi merupakan salah satu penguatan pencegahan yang mengarah kepada upaya penanganan stunting.

Pendampingan ini dapat dilakukan melalui pemberian zat gizi dan stimulasi melalui pijat bayi.

Penanganan melalui pemberian zat gizi sudah banyak dilakukan terbukti melalui program-program pemerintah yang saat ini sudah banyak dijalankan. Sedangkan penanganan melalui perbaikan stimulasi masih jarang dilakukan.

Penjelasan ini disampaikan, Nurlaelah Al-Tadom, SST., M.Keb selaku ketua tim pengabdian masyarakat, Poltekkes Kemenkes Kupang, kepada media pada Senin, 25/11/24.

“Massase atau pijat bayi disebut juga stimulus touch atau stimulasi sentuhan pijat bayi yang mengandung unsur sentuhan berupa kasih sayang, perhatian, suara atau bicara, pandangan mata, gerakan dan pijatan”. Kata Nurlaelah.

Pijat bayi dapat membuat bayi merasa nyaman dan relaks, tambah Nurlaelah, hal ini dapat memicu perkembangan otak, memperbaiki pola tidur, meringankan pencernaan, meningkatkan nafsu makan dan membantu meningkatkan jumlah oksigen menuju otak.

“Pemberian pijat bayi dapat mengurangi resiko terjadinya stunting. Pijat bayi sebaiknya dilakukan secara teratur setiap hari sejak bayi lahir hingga berusia 6–7 bulan. Untuk bayi di bawah 7 bulan, pijat dapat dilakukan dua kali sehari, yaitu di pagi hari dan malam hari sebelum tidur”. Ujarnya.

Dirinya juga berharap agar ibu hamil bisa memiliki pengetahuan dan keterampilan terkait pijat bayi, dan biasa melakukan pijat bayi sendiri kepada bayinya saat bayi lahir nanti sebagai salah satu langkah pemberian stimulasi.

Selain itu harapanya juga agar dapat terbentuk kampung pijat bayi dan masyrakat bisa memahami jika pijat bayi tidak hanya boleh dilakukan oleh dokter dan bidan saja tapi ibu dari bayi itu sendiri juga bias dengan catatan sudah memiliki pengetahuan dan keterampilan yang baik.

Sementara itu, Diyan Maria Kristin SST., M.Kes selakun tim pengabdian masyarakat, yang juga salah satu dosen Prodi DIII Kebidanan Poltekkes Kemenkes Kupang, menambahkan bahwa pijat bayi dapat dilakukan oleh ibu dari bayi tersebut sendiri sehingga sebaikknya ibu hamil sudah harus disiapkan untuk bisa memiliki pengetahuan dan keterampilan terkait pijat bayi.

“Hal inilah yang mendasari perlu  dilakukannya kegiatan Pengabdian Masyarakat berupa pemberdayaan Ibu hamil trimester III melalui pendampingan pijat bayi sebagai penguatan pencegahan stunting oleh tim Dosen Prodi DIII Kebidanan Poltekkes Kemenkes Kupang”. Ungkapnya.

Linda Risyati, S.Keb., Bd.,M.Keb yang juga merupakan tim pengabdian masyarakat turut menambahkan,  dirinya bersama tim, sebelumnya sudah pernah melaksanakan peyuluhan tentang stunting, pijat bayi dan pendampingan pijat bayi dan evaluasi hasil penyuluhan dan pendampingan.

“Lokasi kegiatan pengabdian masyarakat yang pernah dilakukan adalah di Desa Oelnasi yang merupakan wilayah kerja dari Puskesmas Tarus pada bulan Juni lalu, dan para ibu hamil trimester 3 sebagai sasarannya”. Ucap Linda.

Kita telah mengetahui bersama bahwa stunting merupakan salah satu masalah kurang gizi kronis yang terjadi karena kurangnya asupan gizi dimasa lampau sehingga menyebabkan kondisi kegagalan untuk mencapai pertumbuhan optimal terutama tinggi badan yang kurang dari standar WHO.

Stunting dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik secara langsung maupun tidak langsung sehingga diperlukan upaya secara menyeluruh untuk penanganannya. (MN)