Pembantaian di Balam Sempurna — Warga Berdarah, Hukum Dipertaruhkan

PERISTIWA994 Dilihat

Derapperistiwa.id | Rokan Hilir,

Kebun Rumbia 1, Blok 29–30, Desa Balam Sempurna berubah menjadi ladang darah pada Senin (20/10/2025). Sebuah video berdurasi 1 menit 37 detik yang beredar menunjukkan adegan kekejaman: warga terkapar, ada yang mengerang memegangi luka parah, tangan tergores dan berdarah — diduga akibat bacokan. Video itu diunggah akun Facebook NY Sitanggang dan dalam hitungan jam menyulut kemarahan publik.

Di layar sosial media, warga menulis dengan nada marah:

“Mereka turun dari mobil — langsung pukul, bacok, dan bunuh warga Balam Sempurna.”

Atas : Diduga Pelaku Pembacokan.
Bawah : Korban Pembacokan.

Narasi itu bukan sekadar emosional — rekaman memperlihatkan bentrokan yang jelas brutal, dan warga mendesak: siapa yang akan bertanggung jawab? Pemeriksaan awal polisi menyebut pelaku bentrok adalah pihak keamanan PT Ujung Tanjung Sejahtera (UTS)—operator keamanan yang bertugas di KSO PT Agrinas Palma Nusantara—melawan sekelompok warga yang mengklaim mempertahankan tanah mereka.

Kapolsek Bagan Sinembah, AKP Bonardo Purba, SH, ketika dikonfirmasi tim media, mengonfirmasi kejadian tersebut:

“Benar. Kami berada di TKP. Bentrokan melibatkan warga Balam KM 31 dan pihak keamanan perusahaan. Situasi kini dapat dikendalikan.”

Polisi bergerak cepat mengamankan lokasi, menginterogasi sejumlah orang, dan mengevakuasi korban ke fasilitas kesehatan. Namun pertanyaan yang lebih besar kini menggeram: apakah ini tindakan terencana dari aparat keamanan swasta yang dipersenjatai? Warga menuduh ada penggunaan senjata tajam dan tindakan berlebihan yang menyebabkan luka kritis.

Saksi di lokasi menggambarkan suasana seperti “penyerbuan”: kata mereka, oknum keamanan turun dari kendaraan, menyerang secara terkoordinasi, memukul dan membacok tanpa ampun. “Kami bukan kriminal — kami mempertahankan tanah kami. Tapi diperlakukan seolah musuh,” ujar salah satu keluarga korban lewat rekaman suara yang tersebar di chat grup warga.

Dari sisi hukum, Kapolsek menegaskan komitmen penegakan:

“Kami akan interogasi saksi dan siapa pun yang terlibat. Siapa terbukti melakukan kekerasan akan diproses.”

Tetapi nada janji belum memadamkan kemarahan: warga menuntut penyelidikan menyeluruh — termasuk transparansi daftar personel keamanan perusahaan, asal senjata yang digunakan, dan peran manajemen perusahaan dalam insiden ini. Mereka juga meminta agar pihak-pihak yang diduga memerintahkan tindakan kejam itu dihadirkan ke proses hukum.

Hingga laporan ini ditulis, video viral menjadi bukti awal yang memaksa publik bertanya keras: apakah perlindungan hukum sama untuk warga kecil yang mempertahankan tanahnya, dan korporasi yang punya kekuatan ekonomi? Apakah aparat penegak hukum akan memanggil semua pihak tanpa pandang bulu — atau membiarkan luka warga tetap berdarah tanpa keadilan?

Polisi menyatakan mereka masih mengumpulkan bukti dan memintai keterangan sejumlah pihak. Warga mengancam akan menuntut ke pengadilan dan meminta perhatian publik lebih luas jika proses hukum berjalan lambat. Sementara itu, keluarga korban menunggu kabar tentang kondisi mereka yang kritis — dan menuntut satu kata: pertanggungjawaban.**

Editor : Pajar Saragih / Redaksi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *