Wakapolres Kampar Diganti, Publik Tuntut Hasil Bukan Jabatan 

POLRI216 Dilihat

Derapperistiwa.id | Kampar,

Pergantian jabatan kembali terjadi di jantung komando Polres Kampar. Kompol Andi Cakra Putra resmi angkat kaki dari posisi Wakapolres Kampar dan menyerahkan kendali kepada Kompol Rizki Hidayat dalam upacara serah terima jabatan (sertijab) yang digelar Sabtu (27/12/2025) pagi di Mapolres Kampar.

Upacara yang dimulai pukul 08.00 WIB itu dipimpin langsung Kapolres Kampar AKBP Boby Putra Ramadhan S, disaksikan pejabat utama, Kapolsek jajaran, perwira pertama, personel Polres Kampar, ASN, hingga Bhayangkari. Sertijab ini menandai pergantian figur kunci pengendali mesin organisasi, di tengah tuntutan publik terhadap kinerja kepolisian yang kian tinggi.

Prosesi berjalan sesuai protokol: laporan komandan upacara, pembacaan keputusan Kapolda Riau, pengambilan sumpah jabatan, penandatanganan berita acara, hingga amanat Kapolres yang bernada tegas dan tanpa kompromi.

Dalam amanatnya, Kapolres Kampar menyampaikan apresiasi atas pengabdian Kompol Andi Cakra Putra. Namun ia menegaskan bahwa mutasi jabatan bukanlah seremoni penghormatan, melainkan mekanisme penyegaran dan evaluasi kinerja.

“Terima kasih atas dedikasi yang telah diberikan. Semoga sukses di tempat tugas yang baru,” ujar Kapolres.

Kepada Wakapolres baru, Kompol Rizki Hidayat, Kapolres Kampar menyampaikan pesan keras: jabatan Wakapolres bukan kursi empuk, melainkan titik rawan yang langsung bersentuhan dengan disiplin internal dan pelayanan publik.

“Segera menyesuaikan diri dan tingkatkan pelayanan kepada masyarakat. Jabatan ini diukur dari hasil, bukan atribut,” tegas Kapolres.

Kapolres juga menekankan pentingnya soliditas dan sinergi seluruh personel Polres Kampar, seraya mengingatkan bahwa kepercayaan masyarakat adalah taruhan utama dalam setiap langkah dan kebijakan kepolisian.

Upacara sertijab berakhir pukul 08.45 WIB dalam situasi aman dan kondusif. Kini, Kompol Rizki Hidayat berada di bawah sorotan publik: apakah mampu menghadirkan perubahan nyata, atau sekadar mengulang pola lama tanpa gebrakan.**

(Pajar Saragih)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *