By : Drs.Wahyudi El Panggabean
Derapperistiwa.id | Pekanbaru,
SEKITAR 45 tahun silam, saya mengelola usaha jahitan (Taylor) yang dimodali orang tua.
Suatu hari, seorang pria_ 20-an_ datang mengorder celana. Dia menawar dengan harga sangat murah.
Saya menyetujui orderannya, meski saya hanya dapat upah menjahit saja. Dua hari kemudian setelah selesai saya menjahitnya, dia menebusnya. Ok?
Dalam teori pasar, secara sederhana : Saya beroleh upah dari keahlian saya. Si Pria memiliki celana dari uang yang dibayarkannya.
Sebuah transaksi sederhana. Kala itu, saya tengah duduk di bangku kelas 1 SMA.
Sepekan kemudian, si Pria ini kembali datang. Kali ini, ternyata, dia bukan bermaksud mengorder pakaian. Malah mengajukan penawaran yang aneh.
“Saya punya keinginan yang kuat memelajari ilmu menjahit pakaian. Tetapi, saya tidak punya uang. Mohon ajari saya!” katanya memohon, serius.
Terkejut dengan bicaranya, saya yang tengah asyik bekerja, langsung menghentikan putaran roda mesin jahit. Loh?
“Okey, sekarang ajukan hal yang menguntungkan bagi saya jika saya mengajarimu menjahit secara gratis?” jabwabku, agak geram.
Dia memandangku tajam kemudian menunduk sebentar. Lantas, dia mendekatiku dan setengah berbisik dia berujar:
“Saat ini ‘kan menjelang Ramadhan. Kau pasti banjir orderan, siapa yang bantu kau nanti?” katanya sembari tertawa. Dia melanjutkan bicaranya:
“Saya beri jaminan, saya sudah bisa menjahit, sehari sebelum Ramadhan. Terus soal upah saya, terserah kau aja, mau bayar setengah atau sekadar kasih uang makan saya, saya siap,” katanya.
Pendek kisah, kami sepakat kerja sama. Saya mengajarinya menjahit. Dia benar, dua pekan dia sudah mahir menjahit baju dan celana.
Ramadhan tiba, orderan memang banyak.Kami bekerja siang dan malam pakai lampu petromak. Ungtung saja, ada si Pria ini. Tanpa dia saya kewalahan juga.
Puluhan tahun berlalu baru saya menyadari betapa hebatnya kemitraan yang kami bangun. Dia dapat ilmu dan kehidupan dari didikan saya.
Saya kemudian sangat terbantu dalam skala yang lebih besar. Sedangkan ilmu saya juga tidak berkurang meski saya membaginya dengan dia.
Pekerti yang saya petik, ketika kerja sama dijalin tanpa mengedepankan materi, kita tidak saja sama-sama diuntungkan.
Tetapi, dari hal-hal seperti inilah lahirnya: pertumbuhan.
SelamatMenunaikanIbadahRamadhan
