Maraknya Aplikasi Pencari Jodoh, Leli Maslina, SH, Ingatkan Bahaya Love Scamming dan Manipulasi Emosional

OPINI159 Dilihat

Derapperistiwa.id | Pekanbaru,

Maraknya penggunaan aplikasi pencari jodoh di era digital menjadi fenomena sosial yang semakin berkembang di tengah masyarakat. Berbagai aplikasi dimanfaatkan untuk mencari pasangan hidup, teman berkencan, memperluas pergaulan, hingga sekadar menemukan teman bercerita ketika kesepian. Namun, di balik kemudahan tersebut, masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap berbagai modus penipuan berkedok cinta atau love scamming.

Pemimpin Redaksi media hallobintang.com, Leli Maslina, SH, mengingatkan bahwa keinginan untuk mendapatkan pasangan hidup merupakan hal yang wajar. Akan tetapi, keinginan tersebut dapat dimanfaatkan oleh orang-orang yang memiliki niat tidak baik, terutama ketika seseorang mulai merasa nyaman dan menaruh kepercayaan kepada teman yang baru dikenalnya melalui dunia maya.

Leli Maslina merupakan alumni Universitas Andalas (Unand) angkatan 2003 mantan staf pendidik, serta sosok yang aktif dalam organisasi dan memiliki perhatian terhadap persoalan lingkungan sosial. Melalui perspektif jurnalistik dan pengamatannya terhadap dinamika pergaulan masyarakat, ia menilai bahwa literasi digital dan kemampuan mengenali perilaku manipulatif menjadi hal penting dalam membangun hubungan yang sehat.

Menurut Leli, komunikasi yang intens melalui aplikasi pencari jodoh, WhatsApp, panggilan video, bahkan pertemuan secara langsung, tidak serta-merta membuktikan ketulusan seseorang.

“Jangan mudah menilai keseriusan seseorang hanya dari perhatian, rayuan, atau janji manis yang disampaikan. Dalam mencari pasangan hidup, kita perlu melihat konsistensi sikap, kejujuran, tanggung jawab, serta bagaimana seseorang menghargai batasan pribadi kita,” menjadi pesan penting yang perlu diperhatikan para pencari jodoh.

Lima Hal yang Perlu Diwaspadai Pencari Jodoh

1. Kenali Karakter dan Keseriusan Sejak Awal

Menurut Leli, tahap awal perkenalan merupakan kesempatan untuk mengenali karakter seseorang melalui cara berkomunikasi dan memperlakukan orang lain.

Seseorang yang memiliki niat baik seharusnya mampu membangun komunikasi secara sopan, menghargai privasi, dan tidak memaksakan kehendak. Sebaliknya, perilaku yang merendahkan, melecehkan, memaksa meminta foto pribadi, atau membuat lawan bicara merasa tidak nyaman perlu menjadi perhatian.

Meski demikian, karakter seseorang tidak dapat dinilai hanya dari satu percakapan. Dibutuhkan waktu untuk melihat konsistensi perilaku dan kesesuaian antara perkataan dengan tindakan.

2. Jangan Terlena Rayuan dan Janji Pernikahan

Modus romance scam biasanya memanfaatkan kedekatan emosional untuk membangun kepercayaan korban. Pelaku dapat memberikan perhatian berlebihan, menyampaikan kata-kata romantis, bahkan berbicara tentang pernikahan meskipun hubungan baru berlangsung beberapa hari.

Bagi seseorang yang sedang kesepian atau mendambakan pendamping hidup, perhatian tersebut bisa terasa istimewa. Namun, masyarakat perlu memahami bahwa ungkapan cinta tidak selalu menjadi bukti ketulusan.

Leli mengingatkan agar para pencari jodoh tidak terburu-buru menyerahkan kepercayaan hanya karena seseorang pandai merangkai kata-kata.

“Kenali seseorang secara bertahap. Jangan sampai keinginan untuk segera mendapatkan pasangan membuat kita mengabaikan tanda-tanda yang sebenarnya sudah terlihat sejak awal,” demikian prinsip kehati-hatian yang perlu diterapkan.

3. Waspadai Panggilan Mesra dan Janji Membangun Usaha Bersama

Dalam proses pendekatan, panggilan seperti suami istri, Mama Papa, Aby dan Umy, atau sebutan mesra lainnya dapat muncul ketika kedua pihak mulai merasa dekat.

Panggilan tersebut tidak selalu bermasalah. Namun, masyarakat perlu berhati-hati apabila kedekatan yang dibangun dengan cepat mulai digunakan untuk meminta pengorbanan berlebihan, bantuan materi, atau keterlibatan dalam rencana usaha yang belum jelas.

Janji membangun rumah tangga dan kehidupan bersama juga tidak boleh dijadikan alasan untuk menyerahkan uang, memberikan pinjaman, atau melakukan transaksi keuangan tanpa pertimbangan matang.

Menurut Leli, hubungan yang sehat harus memberikan ruang bagi kedua pihak untuk saling mengenal tanpa tekanan.

Keseriusan tidak semestinya dibuktikan dengan kemampuan seseorang memenuhi seluruh permintaan pasangannya. Sebaliknya, keseriusan perlu terlihat melalui tanggung jawab, keterbukaan, dan kesediaan menghormati keputusan masing-masing.

4. Kenali Hubungan yang Mulai Menguras Materi dan Pikiran

Tanda lain yang perlu diwaspadai adalah ketika hubungan mulai didominasi permintaan dan tuntutan sepihak.

Seseorang mungkin terus meminta bantuan keuangan, menuntut pasangannya selalu tersedia, atau memanfaatkan relasi pertemanan untuk kepentingan pribadi. Ketika permintaannya ditolak, ia justru menuduh pasangannya tidak mencintai atau tidak serius menjalin hubungan.

Kondisi semacam ini dapat memicu tekanan emosional dan membuat seseorang kehilangan keseimbangan dalam kehidupan sehari-hari.

Sebagai pengamat lingkungan sosial, Leli menilai penting bagi masyarakat untuk memahami bahwa hubungan yang sehat tidak seharusnya menghilangkan kemandirian seseorang.

Mencari pasangan bukan berarti harus mengorbankan seluruh waktu, materi, pekerjaan, dan ketenangan pikiran.

5. Perhatikan Pola Perilaku, Bukan Lamanya Hubungan

Leli juga mengingatkan bahwa perilaku manipulatif tidak selalu terlihat dalam waktu singkat. Ada orang yang membangun kepercayaan selama berminggu-minggu atau berbulan-bulan sebelum mulai mengajukan permintaan tertentu.

Karena itu, masyarakat tidak seharusnya menggunakan lamanya hubungan sebagai satu-satunya ukuran ketulusan seseorang.

Hal yang lebih penting adalah memperhatikan pola perilaku, seperti cerita yang terus berubah, identitas yang tidak jelas, permintaan uang berulang kali, serta kecenderungan menghindar ketika diminta memberikan penjelasan.

Apabila menemukan tanda-tanda tersebut, pengguna aplikasi perlu berani mengambil jarak, menghentikan transaksi yang mencurigakan, dan meminta pendapat keluarga atau teman tepercaya.

Literasi Digital Menjadi Benteng Perlindungan

Leli menegaskan bahwa masyarakat tidak perlu takut menggunakan aplikasi pencari jodoh. Teknologi tetap dapat menjadi sarana positif untuk memperluas pergaulan dan menemukan pasangan yang memiliki tujuan hidup serupa.

Namun, pengguna harus menjaga informasi pribadi, tidak membagikan kode OTP atau kata sandi, serta menghindari pengiriman uang kepada orang yang baru dikenal tanpa verifikasi memadai.

Jika berencana bertemu langsung, pilih tempat umum dan informasikan lokasi pertemuan kepada orang tepercaya. Apabila menemukan indikasi penipuan, simpan bukti percakapan dan transaksi, kemudian laporkan melalui platform terkait atau kepada pihak berwenang.

Sebagai Pemimpin Redaksi hallobintang.com, Leli Maslina, SH, mengajak masyarakat agar lebih bijak dalam membangun hubungan di era digital.

“Mencari jodoh bukan sekadar menemukan seseorang yang mampu membuat kita merasa dicintai, tetapi menemukan orang yang benar-benar menghargai, jujur, dan bertanggung jawab. Jangan biarkan kesepian membuat kita kehilangan kewaspadaan,” menjadi pesan yang relevan bagi masyarakat pengguna aplikasi pencari pasangan.

Pada akhirnya, hubungan yang sehat membutuhkan waktu, kejujuran, komunikasi terbuka, dan komitmen yang dapat dibuktikan melalui tindakan. Cinta seharusnya menghadirkan rasa aman dan saling menghargai, bukan tekanan, kerugian materi, ataupun manipulasi emosional.**